MENGENAL SISTEM KOORDINAT DAN PROYEKSI PETA DALAM GIS: 5 KONSEP DASAR

MENGENAL SISTEM KOORDINAT DAN PROYEKSI PETA DALAM GIS: 5 KONSEP DASAR

 

Sistem Informasi Geografis atau Geographic Information System (GIS) mengolah data berdasarkan lokasi untuk menghasilkan informasi spasial yang dapat digunakan dalam berbagai kebutuhan. Pengguna GIS memanfaatkan koordinat untuk menunjukkan posisi objek, seperti jalan, sungai, batas administrasi, dan kawasan hutan. Namun, setiap data spasial perlu menggunakan referensi koordinat yang sesuai agar berbagai lapisan peta dapat saling bertumpuk pada posisi yang benar.

Sistem koordinat dan proyeksi peta menjadi dua konsep dasar dalam pengolahan data GIS. Sistem koordinat memberikan acuan untuk menentukan posisi suatu objek, sedangkan proyeksi peta mengubah representasi permukaan bumi ke bidang datar. Dokumentasi resmi QGIS menjelaskan bahwa pemilihan sistem referensi koordinat atau Coordinate Reference System (CRS) harus mempertimbangkan wilayah pemetaan dan tujuan analisis agar posisi serta ukuran objek dapat direpresentasikan secara tepat.

 

MENGENAL SISTEM KOORDINAT DAN PROYEKSI PETA DALAM GIS 5 KONSEP DASAR

Ilustrasi. Sumber: Pexels.com/cottonbro studio

1. Memahami Sistem Koordinat dalam GIS

Sistem koordinat menyediakan aturan untuk menentukan lokasi objek menggunakan sekumpulan nilai numerik. Dalam GIS, setiap titik dapat memiliki koordinat yang menunjukkan posisinya terhadap referensi geografis tertentu. Sistem tersebut memungkinkan pengguna menyimpan, menampilkan, dan membandingkan lokasi berbagai objek pada peta digital.

GIS umumnya menggunakan dua jenis sistem koordinat utama, yaitu sistem koordinat geografis dan sistem koordinat terproyeksi. Sistem koordinat geografis menyatakan posisi menggunakan garis lintang (latitude) dan garis bujur (longitude) dengan satuan sudut, seperti derajat. Sebaliknya, sistem koordinat terproyeksi menggunakan koordinat pada bidang datar, seperti nilai X dan Y dalam satuan meter, untuk mendukung pemetaan dan pengukuran pada wilayah tertentu.

Salah satu sistem koordinat geografis yang banyak digunakan adalah WGS 84 dengan kode EPSG:4326. Sistem tersebut menggunakan lintang dan bujur untuk menunjukkan posisi di permukaan bumi, sehingga sering dijumpai pada data GPS dan berbagai layanan pemetaan. Sementara itu, kode EPSG:3857 merujuk pada WGS 84 atau Web Mercator, yang banyak digunakan untuk menampilkan peta berbasis web.

2. Mengenal Datum dan Sistem Referensi Koordinat

Datum geodetik menyediakan acuan yang menghubungkan koordinat dengan model bentuk dan posisi bumi. Acuan tersebut memengaruhi cara sistem menetapkan lokasi suatu titik berdasarkan lintang, bujur, atau koordinat terproyeksi. Oleh karena itu, dua kumpulan data yang menggunakan angka koordinat serupa belum tentu menunjukkan posisi yang sama apabila keduanya mengacu pada datum yang berbeda.

Dalam GIS, CRS atau sistem referensi koordinat menggabungkan informasi yang diperlukan untuk menafsirkan posisi suatu objek secara konsisten. Informasi tersebut dapat mencakup datum, sistem koordinat, satuan pengukuran, dan parameter proyeksi apabila sistem menggunakan bidang datar. Dokumentasi ArcGIS menjelaskan bahwa sistem koordinat terproyeksi menggabungkan sistem koordinat geografis dengan proyeksi peta untuk mengubah koordinat bersudut menjadi koordinat bidang datar.

Metadata menjadi sumber informasi penting untuk mengenali CRS yang digunakan oleh suatu dataset. Pengguna perlu memeriksa metadata sebelum menggabungkan data dari berbagai instansi atau perangkat survei. Jika informasi CRS tidak tersedia, pengguna perlu mengidentifikasi referensi yang benar melalui dokumentasi sumber data dan pemeriksaan teknis, bukan sekadar memilih CRS yang membuat lapisan terlihat sejajar.

3. Memahami Proyeksi Peta dan Jenisnya

Proyeksi peta merupakan metode matematis yang mengubah posisi pada permukaan bumi menjadi posisi pada bidang datar. Proses tersebut memungkinkan pengguna menampilkan permukaan bumi pada layar komputer atau lembar peta. Namun, bentuk bumi yang melengkung tidak dapat dipindahkan ke bidang datar tanpa menimbulkan distorsi pada karakteristik tertentu.

Secara umum, proyeksi peta mencakup keluarga silinder, kerucut, dan azimutal atau bidang datar. Proyeksi silinder memetakan permukaan bumi dengan pendekatan bidang berbentuk silinder, sedangkan proyeksi kerucut menggunakan pendekatan bidang kerucut. Proyeksi azimutal memindahkan posisi permukaan bumi ke bidang yang menyinggung atau berpotongan dengan model bumi pada lokasi tertentu.

Setiap proyeksi memiliki karakteristik yang berbeda dalam mempertahankan bentuk, luas, jarak, atau arah. Proyeksi yang mempertahankan sudut lokal dapat membantu kebutuhan navigasi, sedangkan proyeksi yang mempertahankan luas lebih sesuai untuk membandingkan ukuran wilayah. Karena tidak ada satu proyeksi yang mempertahankan seluruh karakteristik tersebut sekaligus, pengguna perlu menentukan prioritas berdasarkan tujuan pemetaan.

4. Memilih Proyeksi yang Sesuai untuk Analisis GIS

Pemilihan proyeksi perlu mempertimbangkan luas wilayah, lokasi geografis, skala pemetaan, dan jenis analisis yang akan dilakukan. Untuk analisis jarak atau luas pada wilayah tertentu, sistem koordinat terproyeksi dengan satuan linear dapat mempermudah perhitungan. Salah satu sistem yang sering digunakan untuk pemetaan wilayah adalah Universal Transverse Mercator (UTM), yang membagi bumi ke dalam zona-zona agar pengukuran pada setiap wilayah memiliki distorsi yang terkendali.

Pengguna tidak sebaiknya memilih sistem UTM hanya berdasarkan satuan meter yang ditampilkan pada layar. Zona yang sesuai perlu ditentukan berdasarkan letak wilayah kajian, sedangkan datum dan parameter sistem harus mengikuti kebutuhan data serta standar pemetaan yang berlaku. Untuk analisis lintas wilayah atau kebutuhan tertentu, sistem koordinat lain mungkin lebih sesuai daripada UTM.

Web Mercator, dengan kode EPSG:3857, banyak digunakan untuk menampilkan peta digital karena mendukung integrasi dengan berbagai layanan pemetaan web. Namun, proyeksi tersebut mengalami distorsi ukuran dan luas yang semakin besar di lintang tinggi, sehingga tidak selalu tepat untuk analisis luas wilayah secara presisi. Oleh sebab itu, sistem koordinat yang cocok untuk menampilkan peta belum tentu menjadi pilihan terbaik untuk semua perhitungan spasial.

5. Mengatur Sistem Koordinat dan Proyeksi dalam Perangkat Lunak GIS

Pengaturan CRS merupakan langkah penting sebelum pengguna menggabungkan atau menganalisis beberapa lapisan data. Pengguna perlu memeriksa sistem referensi setiap lapisan, menentukan CRS proyek yang sesuai, lalu memastikan perangkat lunak membaca koordinat sumber dengan benar. Langkah tersebut membantu menjaga kesesuaian posisi antara data jalan, batas wilayah, jaringan sungai, dan objek spasial lainnya.

Perangkat lunak QGIS menyediakan fitur transformasi CRS secara otomatis saat menampilkan lapisan dengan sistem koordinat berbeda. Fitur yang dikenal sebagai on-the-fly transformation tersebut mengubah tampilan lapisan ke CRS proyek sehingga berbagai data dapat terlihat selaras tanpa harus mengubah berkas sumber secara permanen. Meskipun demikian, pengguna tetap perlu memilih CRS proyek secara tepat agar tampilan dan analisis tidak menghasilkan interpretasi yang keliru.

Pengguna juga perlu membedakan proses menetapkan CRS dan memproyeksikan ulang data. Menetapkan CRS berarti memberikan informasi referensi yang benar terhadap nilai koordinat yang sudah ada, sedangkan memproyeksikan ulang atau reprojecting menghitung ulang koordinat ke sistem referensi tujuan. Jika pengguna memberikan CRS yang keliru pada data, perangkat lunak dapat menempatkan objek pada lokasi yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya.

Kesalahan yang Perlu Dihindari saat Menggunakan CRS

Salah satu kesalahan umum dalam GIS adalah menganggap semua koordinat yang menggunakan satuan derajat atau meter berasal dari sistem referensi yang sama. Padahal, datum, zona proyeksi, dan parameter sistem dapat menghasilkan perbedaan posisi maupun interpretasi pengukuran. Pengguna perlu memeriksa kode EPSG atau metadata lain sebelum menggabungkan data dari berbagai sumber.

Kesalahan lain muncul ketika pengguna mengubah informasi CRS hanya untuk memaksa lapisan peta terlihat sejajar. Cara tersebut tidak memperbaiki koordinat yang salah dan justru dapat menyulitkan analisis berikutnya. Untuk mengatasi ketidaksesuaian posisi, pengguna perlu memastikan CRS sumber terlebih dahulu, kemudian melakukan transformasi yang sesuai menuju sistem referensi tujuan.

Kesimpulan

Sistem koordinat dan proyeksi peta menjadi dasar penting dalam pengolahan data spasial menggunakan GIS. Sistem koordinat membantu menentukan posisi objek, sedangkan proyeksi peta mengubah representasi permukaan bumi ke bidang datar sesuai karakteristik tertentu. Pemahaman tentang CRS, datum, sistem geografis, dan sistem terproyeksi membantu pengguna memilih referensi yang sesuai untuk kebutuhan pemetaan.

Ketepatan pemilihan CRS juga menentukan kualitas analisis jarak, luas, dan hubungan spasial antara berbagai lapisan data. Pengguna perlu memeriksa metadata, memilih proyeksi berdasarkan wilayah dan tujuan analisis, serta membedakan penetapan CRS dari proses proyeksi ulang. Dengan menerapkan langkah tersebut, pengolahan data GIS dapat menghasilkan peta yang lebih konsisten dan informasi spasial yang lebih dapat diandalkan.

 

 

*Ditulis oleh Maharani Kusuma Artanti. Sebagai Content Writer yang berpengalaman sejak 2021, Maharani fokus pada penulisan konten yang informatif dan teroptimasi. Sejak 2025, ia mendedikasikan keahliannya untuk SEO dan visibilitas online, memastikan informasi pelatihan tersaji jelas dan aksesibel. Terhubung dengan Maharani via LinkedIn.