HATI-HATI! BERIKUT KESALAHAN DESAIN PACKAGING YANG DAPAT MENURUNKAN MINAT BELI KONSUMEN
HATI-HATI! BERIKUT KESALAHAN DESAIN PACKAGING YANG DAPAT MENURUNKAN MINAT BELI KONSUMEN
Kemasan merupakan salah satu elemen yang berperan dalam membentuk kesan awal konsumen terhadap sebuah produk. Sebelum mencoba atau menggunakan produk, konsumen dapat melihat bentuk, warna, informasi, material, dan tampilan kemasan terlebih dahulu. Oleh karena itu, desain packaging tidak hanya berfungsi sebagai pelindung produk, tetapi juga menjadi bagian dari strategi pemasaran dan komunikasi merek.
Desain yang tepat dapat membantu produk terlihat menarik dan mudah dikenali. Sebaliknya, kesalahan packaging dapat membuat produk sulit dibedakan dari kompetitor, menimbulkan keraguan, atau bahkan menurunkan minat konsumen untuk membeli. Oleh sebab itu, perusahaan perlu memperhatikan berbagai aspek desain agar kemasan produk mampu memberikan pengalaman visual sekaligus informasi yang jelas kepada target pasar.
Ilustrasi. Sumber: Pexels.com/Haberdoedas Photography
Tampilan Visual yang Terlalu Ramai
Salah satu kesalahan packaging yang sering terjadi adalah penggunaan terlalu banyak elemen visual dalam satu kemasan. Warna, gambar, ilustrasi, jenis huruf, dan informasi yang berlebihan dapat membuat tampilan terlihat penuh.
Kondisi tersebut dapat menyulitkan konsumen menemukan informasi utama mengenai produk. Padahal, konsumen biasanya membutuhkan waktu singkat untuk memahami apa yang ditawarkan sebuah produk.
Maka dari itu, desain sebaiknya memiliki hierarki visual yang jelas. Informasi penting seperti nama produk, merek, manfaat utama, dan informasi penting perlu ditempatkan secara proporsional sehingga mudah ditemukan.
Informasi Produk Tidak Jelas
Kemasan produk harus memberikan informasi yang mudah dipahami. Kesalahan dalam penyusunan informasi dapat membuat konsumen kesulitan mengetahui fungsi, komposisi, ukuran, cara penggunaan, atau karakteristik produk.
Tidak hanya itu, tulisan yang terlalu kecil, kontras warna yang rendah, atau penempatan informasi yang tidak teratur juga dapat mengurangi keterbacaan. Oleh karena itu, perusahaan perlu menyesuaikan ukuran huruf dan tata letak dengan karakteristik produk serta target konsumennya. Sebab, informasi yang jelas membantu konsumen mengambil keputusan pembelian dengan lebih percaya diri.
Tidak Konsisten dengan Identitas Merek
Kemasan merupakan bagian dari identitas visual perusahaan. Jika desain tidak memiliki hubungan dengan identitas merek, konsumen dapat kesulitan mengenali produk. Dalam hal ini, penggunaan logo, warna, tipografi, dan elemen visual yang konsisten akan membangun brand awareness. Oleh karena itu, brand harus mempertahankan karakter utama merek jika terdapat perubahan desain untuk mengikuti perkembangan pasar.
Konsistensi juga penting ketika perusahaan memiliki beberapa varian produk. Setiap varian dapat memiliki pembeda visual tanpa kehilangan identitas utama merek.
Memilih Warna yang Tidak Sesuai
Warna memiliki pengaruh terhadap persepsi visual konsumen. Namun, penggunaan warna yang tidak sesuai dengan karakter produk atau target pasar dapat menjadi kesalahan packaging.
Pemilihan warna sebaiknya mempertimbangkan karakter merek, kategori produk, dan konteks penggunaannya. Warna juga perlu memiliki kontras yang cukup agar teks dan informasi dapat dibaca dengan mudah. Selain estetika, penggunaan warna harus mendukung fungsi komunikasi kemasan, bukan sekadar membuatnya terlihat mencolok.
Tipografi Sulit Dibaca
Pemilihan jenis dan ukuran huruf juga menentukan kualitas sebuah kemasan. Font yang terlalu dekoratif atau berukuran terlalu kecil dapat membuat informasi sulit dibaca. Maka dari itu, penting untuk menggunakan tipografi yang sesuai dengan karakter merek sekaligus memiliki tingkat keterbacaan yang baik. Sebab, dalam packaging, tipografi yang baik adalah tipografi yang dapat dibaca.
Tidak Mempertimbangkan Fungsi Kemasan
Desain yang menarik belum tentu menghasilkan kemasan yang fungsional. Perusahaan lokal dapat belajar dari Jepang yang sangat mempertimbangkan cara konsumen membuka, menggunakan, menyimpan, dan membawa produk. Akan semakin baik jika bisnis menerapkan inklusivitas desain kemasan produk untuk para difabel. Misalnya tutup yang berbentuk bola atau bertekstur silindris agar lebih mudah dibuka bagi konsumen yang memiliki keterbatasan mobilitas. Oleh karena itu, desain visual perlu berjalan bersama pertimbangan ergonomi dan fungsi.
Mengabaikan Karakteristik Target Konsumen
Desain kemasan perlu disesuaikan dengan target pasar. Kesalahan terjadi ketika perusahaan membuat desain berdasarkan preferensi internal tanpa memahami karakter konsumen. Misalnya, produk untuk konsumen profesional mungkin membutuhkan tampilan yang berbeda dengan produk yang ditujukan untuk Gen Z. Untuk itu, pembuatan kemasan dapat memperhatikan preferensi warna, gaya visual, informasi, hingga bentuk kemasan tertentu. Oleh karena itu, riset konsumen sangat dibutuhkan dalam rangka membantu perusahaan menentukan desain yang lebih relevan.
Tidak Menonjolkan Keunggulan Produk
Kemasan seharusnya dapat mengomunikasikan nilai utama produk secara cepat. Jika keunggulan produk tidak terlihat, konsumen mungkin tidak memiliki alasan yang cukup untuk memilihnya dibandingkan produk lain.
Informasi seperti manfaat utama, keunggulan bahan, ukuran, varian, atau fitur tertentu dapat ditampilkan secara strategis. Namun, informasi tersebut tetap perlu disampaikan secara ringkas agar kemasan tidak terlihat berlebihan.
Tidak Melakukan Pengujian Desain
Desain yang terlihat menarik bagi tim internal belum tentu efektif bagi konsumen. Karena itu, perusahaan sebaiknya melakukan pengujian sebelum desain digunakan secara luas.
Pengujian ini dapat dilakukan dengan meminta calon konsumen memberikan penilaian terhadap keterbacaan, daya tarik visual, kemudahan menemukan informasi, serta kesesuaian desain dengan karakter produk. Hasil pengujian nantinya dapat menjadi dasar untuk memperbaiki desain sebelum masuk ke tahap produksi dalam jumlah besar.
Mengabaikan Material dan Kualitas Cetak
Desain digital yang baik dapat kehilangan daya tarik apabila hasil cetaknya tidak sesuai. Pemilihan material, kualitas tinta, finishing, dan teknik produksi dapat memengaruhi tampilan akhir kemasan.
Material juga perlu disesuaikan dengan karakter produk. Sebab, terdapat produk yang membutuhkan perlindungan dari kelembapan, benturan, cahaya, atau perubahan suhu memerlukan pertimbangan material yang berbeda.
Dengan memperhatikan hubungan antara desain dan material, perusahaan dapat menghasilkan kemasan produk yang menarik sekaligus fungsional.
Penutup
Kesalahan packaging dapat muncul dari berbagai aspek, mulai dari tampilan visual yang terlalu ramai, informasi yang tidak jelas, pemilihan warna dan tipografi yang kurang tepat, hingga desain yang tidak mempertimbangkan fungsi kemasan. Kesalahan tersebut dapat memengaruhi persepsi konsumen dan mengurangi daya tarik produk.
Untuk menghasilkan kemasan produk yang efektif, perusahaan perlu menggabungkan aspek estetika, fungsi, identitas merek, kebutuhan konsumen, serta kualitas produksi. Riset dan pengujian desain juga perlu dilakukan agar kemasan benar-benar mampu menarik perhatian sekaligus menyampaikan nilai produk dengan jelas.
*Ditulis oleh Maharani Kusuma Artanti. Sebagai Content Writer yang berpengalaman sejak 2021, Maharani fokus pada penulisan konten yang informatif dan teroptimasi. Sejak 2025, ia mendedikasikan keahliannya untuk SEO dan visibilitas online, memastikan informasi pelatihan tersaji jelas dan aksesibel. Terhubung dengan Maharani via LinkedIn.
