BEGINI CARANYA MEMAHAMI SCOPE 1, SCOPE 2, DAN SCOPE 3 DALAM CARBON ACCOUNTING
BEGINI CARANYA MEMAHAMI SCOPE 1, SCOPE 2, DAN SCOPE 3 DALAM CARBON ACCOUNTING
Seiring meningkatnya perhatian terhadap perubahan iklim, perusahaan di berbagai sektor mulai menerapkan carbon accounting untuk mengukur dan mengelola dampak lingkungan dari aktivitas operasionalnya. Salah satu konsep yang paling penting dalam proses ini adalah pengelompokan emisi gas rumah kaca ke dalam Scope 1, Scope 2, dan Scope 3. Pembagian tersebut membantu perusahaan memahami dari mana sumber emisi berasal sehingga strategi pengurangan emisi dapat dilakukan secara lebih efektif.
Konsep scope 1 scope 2 scope 3 diperkenalkan melalui Greenhouse Gas (GHG) Protocol dan kini menjadi acuan internasional dalam penyusunan inventaris emisi karbon. Dengan memahami perbedaan setiap kategori, organisasi dapat menyusun laporan emisi yang lebih akurat sekaligus menentukan prioritas program dekarbonisasi sesuai karakteristik bisnisnya.
Apa Itu Scope 1, Scope 2, dan Scope 3?
Scope 1, Scope 2, dan Scope 3 adalah klasifikasi sumber emisi gas rumah kaca berdasarkan tingkat kendali perusahaan terhadap aktivitas yang menghasilkan emisi tersebut.
Pembagian ini bertujuan memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai asal emisi sehingga perusahaan dapat mengidentifikasi area yang memerlukan upaya pengurangan karbon. Meskipun seluruh kategori berkontribusi terhadap total jejak karbon perusahaan, masing-masing memiliki karakteristik dan metode pengelolaan yang berbeda.
Dengan memahami ketiga scope tersebut, perusahaan tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan pelaporan keberlanjutan, tetapi juga meningkatkan efektivitas strategi pengelolaan emisi.
Scope 1: Emisi Langsung dari Operasional Perusahaan
Ilustrasi. Sumber: Pexels.com/Johannes Plenio
Scope 1 mencakup seluruh emisi gas rumah kaca yang berasal langsung dari sumber yang dimiliki atau dikendalikan oleh perusahaan. Emisi ini muncul sebagai akibat dari aktivitas operasional sehari-hari. Misalnya, pembakaran bahan bakar pada boiler, generator, tungku industri, kendaraan operasional, maupun proses produksi tertentu yang menghasilkan gas rumah kaca. Sebagai contoh, perusahaan manufaktur yang menggunakan genset berbahan bakar diesel akan menghasilkan emisi karbon dioksida. Demikian pula kendaraan operasional milik perusahaan yang menggunakan bensin atau solar juga termasuk dalam kategori Scope 1. Karena berada di bawah kendali langsung perusahaan, pengurangan Scope 1 umumnya dapat dilakukan secara mandiri oleh perusahaan. Contohnya adalah peningkatan efisiensi energi, penggunaan teknologi rendah emisi, atau peralihan ke bahan bakar yang lebih ramah lingkungan.
Scope 2: Emisi Tidak Langsung dari Energi yang Dibeli
Scope 2 mencakup emisi gas rumah kaca yang berasal dari penggunaan energi yang dibeli perusahaan. Jadi, penggunaan listrik, uap, pemanas, atau pendingin yang diproduksi oleh pihak lain termasuk dalam scope ini. Walaupun emisi tersebut dihasilkan di lokasi pembangkit energi, konsumsi energi oleh perusahaan menjadi penyebab tidak langsung munculnya emisi tersebut. Sebagai contoh, sebuah gedung perkantoran menggunakan listrik dari jaringan nasional untuk mengoperasikan komputer, pendingin ruangan, dan pencahayaan. Emisi yang dihasilkan oleh pembangkit listrik masuk ke dalam kategori Scope 2 bagi perusahaan pengguna listrik tersebut. Strategi pengurangan dapat dilakukan dengan peralatan hemat energi, optimalisasi konsumsi listrik, serta energi terbarukan seperti panel surya.
Scope 3: Emisi Tidak Langsung dari Rantai Nilai
Scope 3 merupakan kategori yang paling luas karena mencakup seluruh emisi gas rumah kaca di sepanjang rantai nilai perusahaan. Jadi, emisi ini tidak berasal langsung dari operasional perusahaan maupun energi yang dibeli. Akan tetapi, emisi tersebut muncul akibat aktivitas yang berkaitan dengan bisnis perusahaan. Contohnya, emisi dari produksi bahan baku oleh pemasok, distribusi produk, perjalanan dinas, pengelolaan limbah, penggunaan produk oleh pelanggan, hingga proses daur ulang produk. Pada banyak perusahaan, Scope 3 justru menjadi penyumbang emisi terbesar karena melibatkan banyak aktivitas di luar kendali langsung organisasi. Meskipun pengelolaannya lebih kompleks, identifikasi Scope 3 sangat penting untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai jejak karbon perusahaan.
Perbedaan Scope 1, Scope 2, dan Scope 3
Perbedaan utama ketiga kategori tersebut terletak pada sumber emisi dan tingkat kendali perusahaan terhadap aktivitas yang menghasilkan emisi. Scope 1 berasal dari sumber yang dimiliki atau dikendalikan secara langsung oleh perusahaan. Scope 2 berasal dari konsumsi energi yang dipasok oleh pihak lain, sedangkan Scope 3 mencakup seluruh emisi tidak langsung yang terjadi di sepanjang rantai nilai perusahaan. Dengan memahami perbedaan tersebut, perusahaan dapat menentukan strategi pengurangan emisi yang sesuai. Pengurangan Scope 1 lebih berfokus pada efisiensi operasional, Scope 2 berkaitan dengan pengelolaan konsumsi energi, sedangkan Scope 3 membutuhkan kolaborasi dengan pemasok, pelanggan, dan berbagai mitra bisnis.
Cara Mengidentifikasi Scope 1, Scope 2, dan Scope 3
Proses identifikasi dimulai dengan memetakan seluruh aktivitas operasional perusahaan yang berpotensi menghasilkan emisi gas rumah kaca.
Langkah pertama adalah mengidentifikasi seluruh sumber emisi langsung seperti penggunaan bahan bakar, kendaraan operasional, maupun proses industri. Aktivitas tersebut kemudian dikelompokkan sebagai Scope 1. Selanjutnya, perusahaan mengumpulkan data konsumsi listrik, uap, atau energi lain yang diperoleh dari pihak eksternal. Data ini digunakan untuk menghitung emisi Scope 2 berdasarkan faktor emisi yang berlaku. Untuk Scope 3, perusahaan perlu memetakan seluruh aktivitas dalam rantai pasok, distribusi, perjalanan bisnis, pengelolaan limbah, hingga penggunaan produk oleh konsumen. Proses ini biasanya membutuhkan koordinasi dengan berbagai pihak agar data yang diperoleh lebih akurat. Setelah seluruh sumber emisi teridentifikasi, perusahaan dapat menghitung total emisi menggunakan faktor emisi yang sesuai dan menyusun inventaris karbon sebagai dasar pengambilan keputusan.
Pentingnya Memahami Ketiga Scope Emisi
Pemahaman mengenai scope 1 scope 2 scope 3 membantu perusahaan mengetahui area mana yang memberikan kontribusi terbesar terhadap total emisi karbon. Informasi tersebut menjadi dasar dalam menyusun target pengurangan emisi, meningkatkan efisiensi operasional, memenuhi kebutuhan pelaporan keberlanjutan, serta mendukung pencapaian target net zero emission. Selain itu, identifikasi yang tepat juga meningkatkan transparansi perusahaan di mata investor, regulator, pelanggan, dan pemangku kepentingan lainnya yang semakin memperhatikan aspek keberlanjutan.
Penutup
Klasifikasi scope 1 scope 2 scope 3 merupakan fondasi penting dalam penerapan carbon accounting. Melalui pembagian ini, perusahaan dapat memahami asal-usul emisi gas rumah kaca, menyusun inventaris karbon secara lebih akurat, serta menentukan strategi pengurangan emisi yang efektif. Dengan mengidentifikasi setiap emisi, perusahaan dapat membangun program pengelolaan karbon yang lebih komprehensif sekaligus mendukung praktik bisnis yang berkelanjutan.
*Ditulis oleh Maharani Kusuma Artanti. Sebagai Content Writer yang berpengalaman sejak 2021, Maharani fokus pada penulisan konten yang informatif dan teroptimasi. Sejak 2025, ia mendedikasikan keahliannya untuk SEO dan visibilitas online, memastikan informasi pelatihan tersaji jelas dan aksesibel. Terhubung dengan Maharani via LinkedIn.
